Tag Archives: gaya berfoto yang dilarang islam

Hukum dan Larangan Selfie Menurut Islam bagi muslimah

header niko 728 x 90

Larangan Selfie Menurut Islam Dan Ilmu Psikologi

Larangan selfie menurut Islam disebabkan karena mengarah pada rasa sombong diri. Kesombongan berlaku dalam hal ujub dan pamer kecantikan. Terkait dengan ujub, Rasulullah Saw menyebutkan sebagai dosa.

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga dosa pembinasa: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya” (HR. Thabrani dari Anas bin Malik).

Pandangan lain, Hr. Muslim dari Abu Said al-khudri pun juga menuangkan hadis sebagai berikut.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri.” (HR. Muslim dari Abu Said al-Khudri).

Ajaran Islam adalah ajaran yang lues. Bukan berarti semua bentuk selfie dilarang. Larangan selfie menurut Islam dikhususkan apabila berlebihan. Selama selfie digunakan untuk diri sendiri dan tidak dipamer ke publik, maka itu tidak menjadi masalah. selfie dibolehkan dengan syarat dan catatan tidak memperlihatkan aurat dan tidak mengundang syahwat lawan jenis.

Selfie dari Sudut Pandang Islam

Larangan selfie menurut Islam sempat menjadi viral dibeberapa media sosial karena dianggap sudah berlebihan. Segala sesuatu yang dilakukan karena berlebihan, tidak baik. Larangan selfie dalam Islam dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi, ternyata perlu diwaspadai. Setidaknya, terlalu sering selfie mengindikasikan beberapa gejala seperti gangguan penyakit mental, krisis kepercayaan diri, kepribadian narsis dan kecanduan.

Dalam ajaran Islam keluar Larangan selfie menurut Islam memang karena dampak tidak baik. Seseorang yang sering selfie memiliki indikator mengalami gangguan dismorfik tubuh. Gangguan dismorfik tubuh termasuk gangguan yang selalu memikirkan penampilan diri dan takut cacat tubuhnya diketahui oleh orang lain.

Jika dalam Islam, selfie dilarang karena mengarah pada ujub, riak dan sombong diri. Dari segi ilmu psikologi melihat selfie dari sudut pandang terjadinya gangguan kesehatan mental. Jadi, selfie bukan masalah kesombongan, riak ataupun ujub. Dr. David Veal seorang psikolog dari London fenomena selfie era digitalisasi dan millennial saat ini menjadi candu.

Selfie dari Sudut Pandang Keilmuan Psikologi

Terutama bagi mereka yang memang memiliki gangguan kesehatan mental. Selfie secara berlebih disebut lebih akrab kita sebut narsis. Bentuk narsis tidak hanya dalam bentuk selfie, terlalu percaya pada diri sendiri juga bagian dari narsis. Prinsipnya, gangguan ini sebenarnya orang tersebut mengalami krisis kepercayaan diri. Sehingga haus oleh pujian, pengakuan dari orang lain.

 

Jadi, benang merah di atas dapat disimpulkan bahwa segala masalah itu memiliki banyak sudut pandang. Tergantung kita ingin melihat dari sudut pandang mana. Dari sudut pandang dari sisi keislamankah? Atau dari cabang ilmu yang lain seperti psikologi? atau bisa menggambil dua sudut pandang tersebut sebagai satu bagian potongan pazzle yang perlu kita tata dengan bijak. Sehingga tidak menimbulkan stereotip dan pelabelan ke pelaku narsis.

Karena setiap orang melakukan selfie memiliki alasan mereka masing-masing. Bisa karena gangguan mental, atau memang karena ingin ujub diri. Tugas kita, bukan menyalahkan atau melabeli mereka dengan label ini dan itu. Melainkan lebih ke menghargai hak orang lain. Biarkan salah-benar, dosa-atau tidak dosa itu urusan Tuhan. Tugas kita hanya memahami dan menjadikan sebuah perbedaan berfikir dan perbedaan sudut pandang melihat sesuatu hal sebagian keberagaman. Semoga ulasan larangan selfie menurut Islam ini bermanfaat.